Senin, 11 Januari 2016

Manisnya Berbagi Cinta



Nama: Andang Prasetyo
No: 03
Kelas : 3G/ALIH PROGRAM
MANISNYA BERBAGI CINTA

Di bawah pohon yang dipenuhi oleh butiran-butiran air hujan, seorang anak perempuan sedang berdiri dengan keadaan setengah basah. Sore itu cuaca sedang hujan, dia baru saja pulang dari tempat kerjanya. Ashima, nama panggilan dari anak perempuan itu. Ashima adalah seorang gadis belia yang baru lulus dari perguruan tinggi dan kini bekerja di sebuah bank swasta. Suara klakson dari angkot membuyarkan lamunan Ashima. Ashima memang terbiasa naik sepeda ketika menuju kantornya. Namun, karena sore itu hujan Ashima terpaksa menyimpan sepedanya di kantor dan memutuskan naik angkot untuk pulang ke kosnya.
                Setelah selesai mandi, Ashima langsung menghempaskan badannya ke kasur empuk sambil memeluk boneka lumba lumba kesayangannya. Ashima memejamkan matanya dan berusaha melepaskan rasa kesal yang menyelimuti dirinya. Pada hari ini Ashima benar-benar merasa kesal. Bagaimana tidak, di hari spesial yaitu hari ulang tahunnya tak ada teman-teman maupun kekasihnya yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Sebenarnya Ashima memaklumi apabila teman kantornya tidak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Hal ini karena Ashima baru bekerja selama 3 hari, jadi sangat wajar apabila teman kantor Ashima belum terlalu dekat dengannya. Namun, yang membuat Ashima benar benar kesal adalah dia tidak menerima ucapan dari kekasihnya. Hatinya pun semakin sedih bercampur kesal apa bila mengingat hal itu. Tak terasa air mata sudah mengalir di pipi Ashima.
  
Thok thok thok......                                                                                                                                    
Mba Ashima meniko wonten surat saking pak pos....                                                                                                
 Suara dengan logat medok kental khas Jogja terdengar di kamar kos Ashima
Rupanya itu adalah suara dari Mbok Darmi penjaga kosan Ashima. Ashima pun menyeka air mata di pipinya kemudian membuka pintu kamar kosnya. Mbok Darmi memberikan amplop tipis berwarna coklat berkop POS Indonesia. Ashima heran, karena tidak ada nama pengirim di amplop tersebut. Dengan penuh rasa penasaran Ashima membuka amplop tersebut, senyumnya mengembang ketika membaca kalimat “Anda mendapat kiriman POS dari sdr. Prasetyo di Australia” . Ya, Prasetyo adalah kekasih dari Ashima yang sedang melanjutkan kuliah di Australia. Namun, tiba-tiba senyum itu berubah kecut ketika Ashima membaca “Atas barang kiriman pos tersebut anda dikenakan tagihan pajak sebesar Rp. 2.925.000,00”. Awalnya Ashima meyakini ini adalah bentuk penipuan modus baru. Untuk memastikan hal tersebut Ashima mengambil smartphone-nya dan menghubungi kekasihnya dengan e-mail.
Ashima                 : “Mas, kirim sesuatu buat 
                                aku?”                                                                                               
 Prasetyo              : “iya, syukurlah sampai tepat 
                                 waktu.”                                                                                     
 Ashima                 : “tapi kok aku disuruh setor pajak hampir 3 
                                 juta?”                                                    
 Prasetyo              : “hahahahaha”                                                                                                                                  
Ashima                 : “apanya yang lucu 
                                 mas?”                                                                                                            
Prasetyo              : “kado itu adalah bukti cintaku ke kamu, relakah kamu untuk 
menyisihkan sebagian cintaku padamu untuk diberikan pada dia? 
Kelak cinta dia juga untuk kebaikan kita”                                                                                                                 
 Ashima                 : “Ashima makin bingung mas?”                                                                                                                 
Prasetyo              : “temukan jawabannya besok di kantor POS kota”

Begitulah percakapan e-mail antara Ashima dan kekasihnya. Memang Prasetyo kekasih Ashima adalah pria yang cukup misterius dan penuh teka-teki. Namun, sifat itulah yang membuat Ashima menjadi jatuh cinta kepada Prasetyo. Ashima melewati malam dengan penuh tanda tanya, tapi dengan rasa penasaran yang tinggi untuk mencoba mengerti apa yang dimaksud dari kekasihnya.                                                                                                                                                                               
                Keesokan harinya Ashima bergegas menuju kantor POS kota sesuai arahan dari mas Prasetyo. Setibanya disana dia langsung menuju ke loket informasi dan menanyakan mengenai paket barang kirimannya. “mba langsung saja menuju ruangan Bea dan Cukai guna mendapat informasi lebih lanjut, soalnya yang menentukan besaran pungutan pajak adalah orang Bea Cukai bukan petugas POS”. Jawab petugas POS yang ditemui Ashima. Dengan langkah pasti Ashima menuju ruangan Bea Cukai yang ditunjuk petugas POS tadi. “Permisi, mas saya mau menanyakan paket barang atas nama Ashima yang dikirim dari Australia kata orang POS suruh tanya ke Bea Cukai?” ucap Ashima kepada salah seorang petugas Bea Cukai. “Oh iya mba Ashima, silahkan duduk kami akan memberikan penjelasan mengenai paket barang tersebut. Jadi begini paket barang mba Ashima itu melebihi nilai pembebasan yang telah ditetapkan, atas kelebihan nilai barang tersebut dikenakan pajak dalam rangka impor sebesar Rp. 2.925.000,00 ”, ucap salah seorang petugas Bea Cukai yang dilihat dari seragam yang dikenakannya bernama Andang. “Tapi mas, barang itu hadiah, saya pun tidak tahu isinya apa, harganya berapa, lalu kenapa pajaknya bisa sebesar itu critanya bagaimana mas?” Tanya Ashima kepada petugas. Petugas tersebut mengambil paket barang atas nama Ashima kemudian membuka di  depannya. Didalam kotak tersebut terdapat sebuah jam tangan cantik pabrikan Swiss yang terlihat sangat elegan. Mata Ashima berbinar ketika menyaksikan jam tangan cantik yang ada di kotak. Kemudian petugas tersebut membuka database harga barang dan mencocokan jam tersebut berdasarkan merk dan type, didapatilah harga barang tersebut senilai 1.050 USD atau apabila dirupiahkan denga kurs 10.000,00 menjadi Rp. 10.500.000,00.  Ashima mengerutkan dahinya dan beragumen bahwa barang tersebut adalah gratis karena merupakan hadiah dari kekasihnya yang ada di Australia. Petugas tersebut berusaha memberikan informasi lanjutan bahwa walaupun barang tersebut merupakan barang hadiah, apabila nilai barang tersebut diatas dari nilai pembebasan barang kiriman pos sebesar 50 USD atau jika dirupiahkan dengan kurs Rp. 10.000,00 senilai dengan Rp. 500.000,00 maka akan atas kelebihan nilai barang tersebut dikenakan pajak dalam rangka impor sesuai tarif yang berlaku. Apabila mba Ashima tidak berkenan membayar pajak tersebut maka barang tersebut akan dikirim ke alamat asal dengan persetujuan pemilik. Mendengar penjelasan dan konsekuensinya, Ashima akhirnya memberi keputusan untuk membayar pajak atas paket barangnya. Selain itu Ashima beranggapan bahwa paket tersebut adalah hadiah tanda cinta dari kekasihnya pada hari ulang tahunnya. Ashima tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan kekasihnya apabila barang tersebut ditolak dan harus dikirim kembali ke Australia. Petugas lalu menunjukan rincian pajak yang harus dibayar Ashima, 



Untuk memastikan pungutan PPh pasal 22, petugas meminta Ashima untuk mengeluarkan NPWP karena apabila Ashima tidak mempunyai NPWP maka tarif PPh pasal 22 akan menjadi 15%. Beruntung Ashima sudah mempunyai NPWP sejak dia lulus dari perguruan tinggi.  Ashima kemudian membayar pajak di loket pembayaran yang sudah disediakan. Kemudian bukti bayar berupa SSPCP diserahkan ke petugas guna ditukarkan dengan paket barang kepunyaan Ashima. “Silahkan diterima mba Ashima paketnya, terimakasih sudah bersedia membayar pajak. Karena pajak adalah bukti cinta masyarakat terhadap negara, dan dengan pajak negara mampu menjalankan pemerintahan guna kesejahteraan kita bersama”, ucap petugas Bea Cukai yang sedari tadi menemani Ashima. Mendengar perkataan tersebut Ashima teringat pesan dari kekasihnya “kado itu adalah bukti cintaku ke kamu, relakah kamu untuk menyisihkan sebagian cintaku padamu untuk diberikan pada dia? Kelak cinta dia juga untuk kebaikan kita”. Ternyata yang dimaksud “dia” adalah negara dan yang dimaksud “menyisihkan cinta” adalah setoran pajak. Pemikiran Ashima tentang pajak semakin terbuka dan terang, dia juga berharap dengan pajak yang disetornya dapat digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran masyarakat baik berupa pembangunan, kesehatan, keamanan dan pendidikan. Ashima akhirnya pulang ke kos dengan perasaan riang gembira, karena telah mendapat hadiah yang spesial dari kekasihya dan lega karena dapat memecahkan maksud pesan kekasihnya serta membantu negara untuk menyejahterakan rakyat melalui pajak .
TAMAT