Nama: Andang Prasetyo
No: 03
Kelas : 3G/ALIH PROGRAM
MANISNYA BERBAGI CINTA
Di bawah pohon
yang dipenuhi oleh butiran-butiran air hujan, seorang anak perempuan sedang berdiri
dengan keadaan setengah basah. Sore itu cuaca sedang hujan, dia baru saja
pulang dari tempat kerjanya. Ashima, nama panggilan dari anak perempuan itu.
Ashima adalah seorang gadis belia yang baru lulus dari perguruan tinggi dan
kini bekerja di sebuah bank swasta. Suara klakson dari angkot membuyarkan
lamunan Ashima. Ashima memang terbiasa naik sepeda ketika menuju kantornya.
Namun, karena sore itu hujan Ashima terpaksa menyimpan sepedanya di kantor dan
memutuskan naik angkot untuk pulang ke kosnya.
Setelah
selesai mandi, Ashima langsung menghempaskan badannya ke kasur empuk sambil
memeluk boneka lumba lumba kesayangannya. Ashima memejamkan matanya dan
berusaha melepaskan rasa kesal yang menyelimuti dirinya. Pada hari ini Ashima
benar-benar merasa kesal. Bagaimana tidak, di hari spesial yaitu hari ulang
tahunnya tak ada teman-teman maupun kekasihnya yang mengucapkan selamat ulang
tahun kepadanya. Sebenarnya Ashima memaklumi apabila teman kantornya tidak ada
yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Hal ini karena Ashima baru
bekerja selama 3 hari, jadi sangat wajar apabila teman kantor Ashima belum
terlalu dekat dengannya. Namun, yang membuat Ashima benar benar kesal adalah
dia tidak menerima ucapan dari kekasihnya. Hatinya pun semakin sedih bercampur
kesal apa bila mengingat hal itu. Tak terasa air mata sudah mengalir di pipi
Ashima.
Thok thok thok......
Mba Ashima meniko wonten surat saking pak pos....
Suara
dengan logat medok kental khas Jogja terdengar di kamar kos Ashima
Rupanya itu adalah suara dari
Mbok Darmi penjaga kosan Ashima. Ashima pun menyeka air mata di pipinya
kemudian membuka pintu kamar kosnya. Mbok Darmi memberikan amplop tipis
berwarna coklat berkop POS Indonesia. Ashima heran, karena tidak ada nama
pengirim di amplop tersebut. Dengan penuh rasa penasaran Ashima membuka amplop
tersebut, senyumnya mengembang ketika membaca kalimat “Anda mendapat kiriman
POS dari sdr. Prasetyo di Australia” . Ya, Prasetyo adalah kekasih dari Ashima
yang sedang melanjutkan kuliah di Australia. Namun, tiba-tiba senyum itu
berubah kecut ketika Ashima membaca “Atas barang kiriman pos tersebut anda
dikenakan tagihan pajak sebesar Rp. 2.925.000,00”. Awalnya Ashima meyakini ini
adalah bentuk penipuan modus baru. Untuk memastikan hal tersebut Ashima mengambil
smartphone-nya dan menghubungi
kekasihnya dengan e-mail.
Ashima : “Mas, kirim sesuatu buat
aku?”
Prasetyo
: “iya, syukurlah sampai
tepat
waktu.”
Ashima :
“tapi kok aku disuruh setor pajak hampir 3
juta?”
Prasetyo : “hahahahaha”
Ashima : “apanya yang lucu
mas?”
Prasetyo : “kado itu adalah bukti cintaku ke kamu, relakah kamu
untuk
menyisihkan sebagian cintaku padamu untuk diberikan
pada dia?
Kelak cinta dia juga untuk kebaikan kita”
Ashima : “Ashima makin bingung mas?”
Prasetyo : “temukan jawabannya besok di
kantor POS kota”
Begitulah
percakapan e-mail antara Ashima dan kekasihnya. Memang Prasetyo kekasih Ashima
adalah pria yang cukup misterius dan penuh teka-teki. Namun, sifat itulah yang
membuat Ashima menjadi jatuh cinta kepada Prasetyo. Ashima melewati malam
dengan penuh tanda tanya, tapi dengan rasa penasaran yang tinggi untuk mencoba mengerti
apa yang dimaksud dari kekasihnya.
Keesokan
harinya Ashima bergegas menuju kantor POS kota sesuai arahan dari mas Prasetyo.
Setibanya disana dia langsung menuju ke loket informasi dan menanyakan mengenai
paket barang kirimannya. “mba langsung saja menuju ruangan Bea dan Cukai guna
mendapat informasi lebih lanjut, soalnya yang menentukan besaran pungutan pajak
adalah orang Bea Cukai bukan petugas POS”. Jawab petugas POS yang ditemui
Ashima. Dengan langkah pasti Ashima menuju ruangan Bea Cukai yang ditunjuk
petugas POS tadi. “Permisi, mas saya mau menanyakan paket barang atas nama
Ashima yang dikirim dari Australia kata orang POS suruh tanya ke Bea Cukai?”
ucap Ashima kepada salah seorang petugas Bea Cukai. “Oh iya mba Ashima,
silahkan duduk kami akan memberikan penjelasan mengenai paket barang tersebut.
Jadi begini paket barang mba Ashima itu melebihi nilai pembebasan yang telah ditetapkan,
atas kelebihan nilai barang tersebut dikenakan pajak dalam rangka impor sebesar
Rp. 2.925.000,00 ”, ucap salah seorang petugas Bea Cukai yang dilihat dari
seragam yang dikenakannya bernama Andang. “Tapi mas, barang itu hadiah, saya
pun tidak tahu isinya apa, harganya berapa, lalu kenapa pajaknya bisa sebesar
itu critanya bagaimana mas?” Tanya Ashima kepada petugas. Petugas tersebut
mengambil paket barang atas nama Ashima kemudian membuka di depannya. Didalam kotak tersebut terdapat
sebuah jam tangan cantik pabrikan Swiss yang terlihat sangat elegan. Mata
Ashima berbinar ketika menyaksikan jam tangan cantik yang ada di kotak.
Kemudian petugas tersebut membuka database harga barang dan mencocokan jam
tersebut berdasarkan merk dan type, didapatilah harga barang tersebut senilai
1.050 USD atau apabila dirupiahkan denga kurs 10.000,00 menjadi Rp.
10.500.000,00. Ashima mengerutkan
dahinya dan beragumen bahwa barang tersebut adalah gratis karena merupakan
hadiah dari kekasihnya yang ada di Australia. Petugas tersebut berusaha
memberikan informasi lanjutan bahwa walaupun barang tersebut merupakan barang
hadiah, apabila nilai barang tersebut diatas dari nilai pembebasan barang
kiriman pos sebesar 50 USD atau jika dirupiahkan dengan kurs Rp. 10.000,00
senilai dengan Rp. 500.000,00 maka akan atas kelebihan nilai barang tersebut dikenakan
pajak dalam rangka impor sesuai tarif yang berlaku. Apabila mba Ashima tidak
berkenan membayar pajak tersebut maka barang tersebut akan dikirim ke alamat
asal dengan persetujuan pemilik. Mendengar penjelasan dan konsekuensinya,
Ashima akhirnya memberi keputusan untuk membayar pajak atas paket barangnya. Selain
itu Ashima beranggapan bahwa paket tersebut adalah hadiah tanda cinta dari
kekasihnya pada hari ulang tahunnya. Ashima tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan
kekasihnya apabila barang tersebut ditolak dan harus dikirim kembali ke
Australia. Petugas lalu menunjukan rincian pajak yang harus dibayar Ashima,
Untuk
memastikan pungutan PPh pasal 22, petugas meminta Ashima untuk mengeluarkan
NPWP karena apabila Ashima tidak mempunyai NPWP maka tarif PPh pasal 22 akan
menjadi 15%. Beruntung Ashima sudah mempunyai NPWP sejak dia lulus dari
perguruan tinggi. Ashima kemudian
membayar pajak di loket pembayaran yang sudah disediakan. Kemudian bukti bayar
berupa SSPCP diserahkan ke petugas guna ditukarkan dengan paket barang
kepunyaan Ashima. “Silahkan diterima mba Ashima paketnya, terimakasih sudah
bersedia membayar pajak. Karena pajak adalah bukti cinta masyarakat terhadap
negara, dan dengan pajak negara mampu menjalankan pemerintahan guna
kesejahteraan kita bersama”, ucap petugas Bea Cukai yang sedari tadi menemani
Ashima. Mendengar perkataan tersebut Ashima teringat pesan dari kekasihnya “kado itu adalah bukti cintaku ke kamu,
relakah kamu untuk menyisihkan sebagian cintaku padamu untuk diberikan pada
dia? Kelak cinta dia juga untuk kebaikan kita”. Ternyata yang dimaksud
“dia” adalah negara dan yang dimaksud “menyisihkan cinta” adalah setoran pajak.
Pemikiran Ashima tentang pajak semakin terbuka dan terang, dia juga berharap
dengan pajak yang disetornya dapat digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran
masyarakat baik berupa pembangunan, kesehatan, keamanan dan pendidikan. Ashima
akhirnya pulang ke kos dengan perasaan riang gembira, karena telah mendapat
hadiah yang spesial dari kekasihya dan lega karena dapat memecahkan maksud
pesan kekasihnya serta membantu negara untuk menyejahterakan rakyat melalui
pajak .
TAMAT